GOLEK-GOLEK

Selasa, 29 Maret 2011

Evaluasi Psikologi Anak (USB)

BAB I PENDAHULUAN
Evaluasi berkebutuhan khusus ini disajikan dalam delapan bahasan dengan keterangan tambahan mengenai berbagai alat tes yang dibahas secara terpisah pada lima bab terakhir.
Bab I berisi penjelasan mengenai konsep dasar evaluasi psikologi, persyaratan evaluasi psikologi, tujuan evaluasi itu dilaksanakan, berikut klasifikasi dari evaluasi psikologi itu sendiri. Pada bab ini memberikan pada penjelasan mengenai apa itu psikodiagnistik, fungsi dan kegunaannya, oleh siapa saja psikodiagnostik berhak dilaksanakan, sejarah singkat, serta berbagai isu mengenai psikodiagnostik.
Bab II berisi sajian bahasan ruang lingkup psikologi. Di dalamnya, selain terdapat pembahasan mengenai dalam setting apa saja tes psikologi dapat digunakan, paparan lain berisi jenis tes psikologi yang terdiri dari tes inteligensi tes kecakapan, tes prestasi, tes kreativitas, tes kepribadian, tes minat dan bakat, tes perilaku, tes neuro-psikologi, dan tes bagi populasi berkebutuhan khusus.
Bab III secara khusus memfokuskan kajiannya pada berbagai isu mengenai inteligensi. Pembahasan mengenai hakikat inteligensi menjadi bagian pembuka dari bab ini, dilanjutkan dengan latar belakang dilakukannya studi mengenai inteligensi oleh para ahli yang dimulai oleh Alfred Binet. Pada bab ini, juga memaparkan berbagai faktor yang turut mempengaruhi dalam menentukan inteligensi seseorang. Teori dan model inteligensi yang dikemukakan para ahli di seperti willian stern, Sperman Thomson, Thorndike, dan Thurstone juga menuju bab lain yang secara spesifik akan membahas berbagai alat tes inteligensi secara terpisah satu dan lainnya.
Pada bab V akan dibahas mengenai tes menggambar orang (Draw A Man/DAM) yang diperkenalkan oleh Florence Goodenough. Pada bab ini, selain memuat paparan mengenai seperti apa alat tes ini bekerja mengukur taraf inteligensi seseorang, juga mencoba berbagai dengan para subjek dan wacana lain terkait tes menggambar orang ini.
Pada bab VI dibahas mengenai dua seri dari tes PM yaitu The Standard Progressive Matrices (SPM) dan Coloured Progressive Matrices (CP). Seperti pada bab ini turut dijelaskan mengenai bagaimana tes ini dipresentasikan/disajikan kepada subjek, prinsip-prinsip konstruksi, berbagai contoh soal yang merupakan saduran penulis dari soal aslinya kepada pembaca tentang model soal yang menjadi bagian dari alat tes ini. Instruksi, standarisasi, evaluasi jawaban, dan strategi interpretasi tes PM juga menjadi bagian yang akan melengkapi penjelasan pada bab VI ini.
Pada bab VII, menguraikan mengenai tes kematangan masus sekolah atau Nijmegse Schoolbekwaamheids Test (NST) yang Coffie. Alat tes ini adalah salah satu yang dianggap sebagai yang culture free atau bebas pengaruh budaya.
Akhirnya pada bab VIII sebagai bab terakhir, menjelaskan mengenai skala kematangan sosial vineland yang digagas oleh Edgar A. Doll seperti pada pembahasan sebelumnya, bab ini juga dibuka dengan sebuah pendahuluan yang mengantarkan para pembaca pada pemahaman mengenai seperti apa alat tes kematangan sosial ini. Kegunaan dan bentuk skala dari vineland sosial maturity scale, instruksi umumnya, cara scoring berikut contohnya, bentuk skala, periode usia, katagori bentuk skala, dan panduan wawancara bagi anak.

BAB II KONSEP DASAR EVALUASI PSIKOLOGI
  1. Perngertian
Istilah evaluasi merupakan istilah yang sering dipergunakan dalam dunia pendidikan. Istilah lainnya yang sering dipergunakan adalah tes, dan pengukuran. Istilah-istilah tersebut memiliki pengertian yang hampir sama, namun tetap memiliki berbagai perbedaan. Ada evaluasi yang mempergunakan tes secara intensif sebagai pengumpulan data. Tetapi harus disadari bahwa tes bukanlah evaluasi, bahkan bukan pula pengukuran. Tes lebih sempitrunag lingkupnya dibanding pengukuran, dan pengukuran lebih sempit dibandingkan dengan evaluasi. Dalam penulisan ini yang dipergunakan adalah evaluasi dengan pertimbangan lebih luas daripada istilah tes dan pengukuran.
Secara umum evaluasi psikologi bertujuan mengevaluasi perbedaan-perbeaan antara individu-individu atau antara reaksi individu yang sama situasi yang berbeda. Secara khusus evaluasi psikologi dilakukan dengan alasan-alasan :
    • Perbedaan perorangan; banyak perbedaan tindakan dan penguasaan antara manusia yang normal.
    • Digunakan untuk mengklasifikasi peserta didik; dengan acuan pada mereka untuk bisa mengambil manfaat dari berbagai jenis pelajaran sekolah yang berbeda-beda.
    • Masalah retardasi mental; Binet dan simon (1905) berhasil menemukan konsep mental age, yaitu suatu konsep yang dapat menentukan derajat kemampuan kecerdasan sebagai kapasitas dasar dalam belajar.
    • Masalah seleksi dan klasifikasi sumberdaya manusia; untuk mengetahui klasifikasi individu sesuai dengan bidang yang akan digeluti terutama dalam penerimaan karyawan, penunjukan tugas, dan promosi khususnya pekerja-pekerja tingkat tinggi.
    • Penggunaan dalam konseling; hasil bimbingan psikologi dapat dipergunakan untuk kepentingan bimbingan dan menyangkut rencana pendidikan serta pekerjaan emosi pengembangan diri dapat diketahui melalui skor-skor evaluasi psikologi.
    • Hasil evaluasi psikologi dapat digunakan oleh guru dalam rangka penempatan anak berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat memperoleh lingkungan pendidikan yang sesuai dengan potensinya.
  1. Klasikal Evaluasi Psikologi
Dipandang dari nilai, sifat dan penggunaannya evaluasi psikologi dapat diklasifikasikan berdasarkan :
    1. Objek yang dievaluasi; terdiri dari evaluasi untuk individu dan evaluasi untuk kelompok. Antara evaluasi individu dan kelompok ini memiliki perbedaan-perbedaan dalam bentuk maupun butir soalnya.
    1. Evaluasi untuk individual; pelaksaan evaluasi ini untuk kelompok.
    2. Evaluasi untuk kelompok; evaluasi ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya praktis, dimana hasil evaluasi dapat mengaklasifikasi tingkat intelektual umum dari orang yang dievaluasi.
    1. Cara evaluasi; dilihat dari cara evaluasinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :
    1. Evaluasi aternatif (Ya/Tidak)
    2. Evaluasi gradual (1, 2, 3, 4)
    3. Cara penyelesaian, yaitu verbal dan non-verbal
    1. Materi evaluasi yang berhubungan dengan ini dan waktu yang disebutkan, yaitu speed test dan power test.
  1. Psikodiagnostik
    1. Pengertian Psikodiagnostik
Psikodiagnostik merupakan salah satu cara dalam bidang psikologi yang menjadi alat bantu utama untuk mencari pengertian tentang tingkah laku manusia. Memahami tingkah laku manusia dalam dalam kondisinya yang normal maupun abnormal bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan seperangakat persyaratan teoritik, metodik, dan keterampilan teknik pemeriksaan psikologi sebelum calon psikolog dapat dikatakan ”mahir” atau terampil dalam psikodiagnostik.
Psikodiagnostik adalah suatu metode yang dipakai untuk dapat menentukan kelainan-kelainan psikis para penderita agar dapat diberikan pertolongan yang lebih tepat. Psikometrik adalah bidang ilmu yang mempelajari pengukuran fungsi-fungsi dalam kapasitas psikologi individu. Psikotest adalah prosedur untuk mengukur fungsi-fungsi dan kapasitas psikologi individu.
Psikodiagnostik merupakan suatu cara untuk menegkkan diagnosa (dalam rangka pemeriksaan) yang akhirnya menjadi suatu diagnosa kepribadian. Dalam sejumlah literatur bahasa inggris, istilah psikodiagnostik diidentikan dengan personality assessment. Psikodiagnostik muncul pertama kali sebagai metode psychodiagnostic, pada tahun 1921, yang selanjutnya dikenalkan sebagai tes Rorschach. Metode ini berkembang dalam bidang klinik (psikiatris) sehingga psikodiagnostik pada saat itu diartikan sebagai suatu metode untuk menilai adanya kelainan-kelainan psikis pada seorang pasien mental (diagnosa).
James Drever (1971), dalam a dictionary of psychology memberi batasan sebagai berikut : “Psychodiagnostic the attempt to features, as in psysiognomy, cranilogy, graphology, study of voice, gait, etc.”
Dari pengertian yang dikembangkannya tampak bahwa psikodiagnostik memasyaratkan suatu media Bantu melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku atau gerak-gerak dalam konstitusi tubuh seseorang untuk memberi penilaian atas diri individu. Istilah psikotes akan lebih tepat jika diubah dengan pemeriksaan psikologik.
Psikotes atau psikoteknik seolah-olah mengandung arti seseorang melalui alat-alat tes pemeriksaan. Dengan alat-alat teknik kita memang dapat mengetahui segala hal yang berkaitan dengan peralatan tersebut atau dapat menguji suatu benda. Akan tetapi berbeda dengan manusia, sangta sulit untuk mengetahui begitu saja apa isi manusia, walaupun untuk itu sudah digunakan alat untuk menjaring dan mengukurnya misalnya tidak mungkin besarnya emosi seseorang dapat diukur.
Melalui pemeriksaan tersebut, diperoleh gambaran tentang diri seseorang dan berguna untuk menegakkan suatu diagnosa mengenai individu tersebut. Hal inilah yang dipelajari dalam lingkup psikodiagnostik.
    1. Kegunaan Psikodiagnostik
Untuk sampai pada deskripsi kepribadian, digunakan beberapa teknik dan prosedur yang sistematis yang bertujuan untuk mmperoleh data yang objektif.
Teknik-teknik tersebut antara lain, teknik wawancara observasi, analisa dokumen pribadi (otobiografi, biografi, buku harian, surat pribadi dan sebaginya), dan tes psikologik.
Terdapat lima kelompok profesi yang menggunakan psikodiagnostik, yaitu 1) psikolog, 2) psikiater, 3) petugas rekrutment dalam bidang industri dan organisasi (personel worker), 4) petugas social, 5) petugas bimbingan dan konseling (dibidang pendidikan). Adapun kenggunaannya terdapat dalam setting berikut :
      • Clinikal setting, misalnya rumah sakit, pusat kesehatan mental atau klinik-klinik konsultasi psikologis. Fokus penggunaannya adalah pada usaha mendeteksi gangguan psikis yang dialami individu (klien), serta mengukur kemampuan/kekuatan pribadi yang dimiliki individu sehingga dapat diterapkan pola terapi/treatment yang efektif baginya.
      • Legal setting, misalnya dipengadilan, lembaga permasyarakatan, dan tempat rehabilitasi lainnya yang berkaitan dengan masalah kriminal dan kejahatan, seperti pusat rehabilitas penderita narkoba dan rehabilitas anak-anak.
      • Education and Vocational Guidance, misalnya di sekolah, universitas atau pusat pelatihan, pusat bimbingan karier bidang pengembangan studi kerja.
      • Education and Vocation Selection, misalnya untuk rekrutmen di perusahaan/organisasi atau bidang pekerjaan lainnya. Untuk penentuan bidang studi (jurusan studi yang dipilih) dan sebagainya.
      • Research setting, yakni untuk kepentingan pengembangan ilmu dan pengembangan teknik serta metode psikodiagnostik. Biasanya dalam lingkup akademik/perguruan tinggi (Janis, 1969).
    1. Sejarah Singkat Psikodiagnostik
Rangkuman sejarah awal perkembngan Psikodiagnostik
2200 S.M.
:
Pemerintah kerajaan Cina mulai mengadakan tes seleksi penerimaan pegawai baru.
1862
:
Wilhelm Wund menciptakan pendulu untuk mengukur kecepatan berfikir.
1884
:
Francis Galton mengadminsitrasi test battery pertama kali untuk ribuan orang di internasional Health Exhibit.
1890
:
James Mc Keen Cattel menggunakan istilah mental di dalam menggunakan alat test battery yang diciptakan Galton.
1901
:
Clark Wissler menemukan fakta bahwa Brass Instrument tidak memiliki korelasi dengan pencapaian nilai akademik seorang individu.
1905
:
Binet dan Simon meneukan tes kecerdasan modern pertama.
1914
:
Stern memperkenalkan konsep IQ
1916
:
Lewis Terman merevisi alat tes Binet dan Simon. Lahirlah Stanfor dan Binet. Revisi alat tes ini telah dilakukan pada tahun 1937, 1960 dan 1986.
1917
:
Robert Yerkes menciptakan Army Alpha dan Army Beta untuk merekrut sukarelawan perang dunia I
1917
:
Roberth Wooworth menciptakan Personel Data Sheet, Alat tes kepribadian yang pertama.
1920
:
Rorschach Inkblot ditemukan.
1921
:
Psykological Comporation, penerbit utama alat-alat tes psikologi didirikan oleh Cattel, Thorndike, dan Woodworth.
1927
:
Edisi pertama dari Strong Vocational Interest Blank diterbitkan
1939
:
Wechler-Bellevue Intelligence Scale diterbitkan. Revisi terhadap alat tes ini dilakukan pada tahun 1955, 1981, dan 1997.
1942
:
Minnesota Multiphasic Personality Inventory diterbitkan
1949
:
Wechsler Intelligence Scale untuk anak-anak ditentukan. Revisi terhadap alat tes ini dilakukan pada tahun 1974 dan 1991.

    1. Isu Seputar Psikodiagnostika
Alat-alat tes psikologi yang digunakan untuk kepentingan psikodiag-nostika seringkali diasumsikan sebagai netral dan objektif. Akan tetapi seringkali sebagaian orang atau kelompok memandang penggunaan alat-alat tes dalam psiko-diagnostik secara skeptis. Kelompok ini memandang bahwa lat-ala psikologi sarat dengan nilai atau kepentingan satu kelompok.
Kontroversi seputar alat tes sendiri dimulai dari perbedaan rata-rata IQ antara berbagai kelompok ras dan etnis. Sebagai contoh, skore IQ orang Amerika keturunan Afrika secara rata-rata 15 poin di bwah skor IQ rata-rata orang Amerika kulit putih. Peredaan point ini dapat diturunkan sampai 7 ke point 12 ketika latar belakang sosial ekonomi diperhitungkan. Perbedaan skor membawa implikasi dalam kehidupan sosial.

Definisi Teknis dari Tes Bias
Dari perspektif teknik dan statistik, sebuah alat tes dikatagorikan sebagai bias ketika terjadi bias dalam 3 aspek yaitu bias dalam content validity, bias dalam predictive atau criterionrenalited validity dan bias dalam construc validity.
      • Bias dalam content validity
Bias dalam content validity terjadi ketika item atau subtest dalam sebuah alat tes lebih sulit untuk satu kelompok tertentu dibandingkan untuk kelompok lain ketika kemampuan dasar mereka dianggap konstan.
      • Bias dalam predictive atau criterion-related validity
Bias dalam predictive atau criterion-related validity terjadi ketika sebuah tes tidak memprediksikan kriteria yang relevan sama terhadap orang dari berbagai kelompok populasi masyarakat.
      • Bias dalam construc validity
Bias dalam construc validity terjadi ketika sebuah alat tes mengukur trait atau konstruk yang dominan untuk satu kelompok masyarakat tertentu.

Dari ketiga aspek tadi, baik secara teknis maupun statistik alat-alat tes psikologi yang ada, baik itu berupa alat tes kecerdasan alat tes bakat, maupun alat tes kepribadian, secara umum tidak menunjukkan kriteria bias terhadap satu kelompok masyarakat tertentu.
  1. Kuatifikasi dan Objektivitas dalam Pemeriksaan Psikologi
    1. Tes Psikologi
Istilah tes (berasal dari kata testum = mangkuk, untuk menguji apakah dalam campuran logam terdapat kadar emas atau perak, kouwer, 1952) mulai diperkenalkan pertama kali oleh James McKeen Cettel pada tahun 1890 (Sundberg, 1977), ketika ia memperkenalkan inilah mental tes untuk menyelidiki aspek-aspek inteligensi.
Tes adalah suatu metode untuk menjaring data berupa perilaku individu, yang dimaksud dengan situasi yang baku adalah sedapat mungkin situasi tes itu sama untuk setiap orang yang dites.
Beberapa manfaat penggunaan tes adalah diperolehnya efesiensi dalam waktu untuk mengetahui gambaran kepribadian seseorang dan hasil-hasilnya yang dapat dipadankan dengan hasil tes lain/dikomparasikan (Kouwer, 1952).

Menurut Choca (1980), secara tipikal penggunaan tes dalam pemeriksaan psikolog melibatkan dua tugas yaitu :
      • Memperoleh informasi tentang subjek malalui tes psikologi
      • Berbagi informasi dengan ahli/profesi lain yang terkait
Di dalam suatu assessment apa yang diperoleh dari situasi tes adalah suatu produk yang komplek dan dipengaruhi banyak faktor antara lain :
      • Karakteristik rangsangan tes
      • Karakteristik situasi tes
      • Karakteristik dari individualnya
Groth-Marnat (1984), menguraikan pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan bila pemeriksaan akan menggunakan tes, mengingat cukup banyak permasalahan yang dapat timbul sehubungan dengan penggunaan dan hasil evaluasi tes itu. Pertimbangan itu adalah sebagai berikut :

Orientasi Teoritik
      • Apakah pemeriksaan memahami konstruk teoritik dari hal yang akan diukur oleh tes tersebut?
      • Apakah item tes itu sudah mengarah pada deskripsi teoritik itu?
Pertimbangan Praktis
      • Bila tes itu menuntut kemampuan pemahaman membaca pada testee, apakah kemampuan testee sudah sesuai dengan taraf yang dituntut oleh tes itu?
      • Berapa banyak/lama sepantasnya tes itu diberikan sesuai dengan tujuan pemeriksaannya?
      • Apakah dibutuhkan pelatihan keterampilamn khusus untuk administrasi tes? Bila ya, bagimana hal itu dapat dipenuhi?
Standarisasi
      • Apakah populasi yang akan dites, sesuai dengan populasi ketika tes itu ditandarisasikan?
      • Apakahukuran standarisasi dari sampel sudah tepat?
      • Apakah ada norma kelompok yang spesifik?
Reabilitas
      • Apakah tes itu sudah cukup terandal? (umumnya 0,9 untuk tujuan pemeriksaan klinis 0,70 untuk tujuan riset)
      • Apakah implikasi dari sifat (trait) yang relatif konstan, metode estimasi untuk memperoleh reliabilitas dan format tes terhadap reliabiitas tes itu?
Validitas
      • Apakah kriteria dan prosedur yang digunakan untuk mencari validitas tes itu?
      • Apakah tes sudah dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga menjadi alat ukur yang akurat?
      • Apakah te situ dapat mengahasilkan usuran yang akurat tentang konteks dan tujuan pemeriksaan?
    1. Fungsi dari tes
Menurut Kouwer (1952) terdapat tiga fungsi dari tes, yaitu :
        1. Fungsi Meramalkan
Berdasarkan hasil tes kerapkali dimungkinkan untuk mengadakan suatu prognosa, prediksi tentang sikap, tingkah laku subjek di kemudian hari. Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa materi tes harus benar-benar objektif dan dapat dikuantifikasikan. Validitasnya dan reliabilitas dari tes harus dapat menaruh kepercayaan atau hasil prediksi itu.
        1. Fungsi Menggambarkan
Dalam fungsi ini, hasil tes digunakan untuk medeskripsikan kepribadian seseorang untuk tujuan-tujuan yang telah diterapkan. Dalam hal ini, institusi dan empati memegang peranan yang penting agar kita dapat mendeskripsikan aspek-aspek kepribadian subjek. Sifat pemeriksaannya tidaklah rasionl seperti halnya fungsi meramal. Juga bukan hanya kuantitatif, tetapi yang penting adalah pengertian yang sedalam-dalamnya tentang subjek yang diperiksa. Persyaratan dituntut dari pemeriksaan ini memang lebih barat daripada fungsi meramalkan.
        1. Fungsi Menemukan Diri Sendiri
Fungsi ini mencoba memberi suatu pengertian yang mendalam tentang gambaran kepribadian. Hasil tes disini dibicarakan bersama dengan subjek sehingga subjek bisa memperoleh gambaran yang cukup jelas mengenai dirinya, sifat-sifatnya, kelemahan-kelemahannya, potensi yang di miliki dan sebaginya.
    1. Syarat tes yang baik
Memalui tes akan diperoleh sejumlah informasi tentang subjek informasi yang didapat tentu saja yang objektif, relevan dan akurat. Untuk menggali semua informasi ini, dibutuhkan tes yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yakni tes harus :
  1. Valid/sahih
Valid adalah suatu ukuran untuk memprediksikan kriterium yang telah ditentukan juga merupakan suatu kekuatan hubungan antara tes dan merupakan suatu kekuatan hubungan antara tes dan kriterianya. Validitas sering pula didefinisikan sebagai :”ukuran yang benar-benar mengukur apa yang akan diukur” atau sejauh mana tes mengukur apa yang akan dimaksudkan untuk diukur. Terdapat 3 jenis tes validitas tes menurut APA (1974), yaitu :
        1. Contetent Valivity
Disini veliditas diartikan sebagai seberapa jauh tes mengungkapkan pengetahuan (kemampauan) subjek tentang suatu materi tertentu.
        1. Criterion Validity
Validasi jenis ini membicarakan relasi dari hasil tes dengan kriterium yang telah diterapkan.
        1. Construc Validity
Validasi ini bertolak dari konstruksi teoritik dan definiki suatu tes, yakni meninjau bhubungan antara hasil tes dengan konsep teoritik yang melandasinya.
  1. Reliabel/teradal
Pengertaian reliabilitas suatu tes berkaitan dengan konsistensi, reproduksibilitas dan ketelitian tes tersebut. Kalau validitas adalah hubungan antara hasil tes dengan suatu kriterium luar, maka reliabilitas adalah hubungan di dalam tes itu sendiri.
Reliabilitas dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu terpenting untuk diperhatikan menurut Kouwer (1952) adalah :
          • Stabilitas yang diperoleh dengan cara sesudah beberapa waktu lamanya subjek dites lagi dengan tes yang sama. Kedua tes tersebut kemudian dibandingkan.
          • Ekivalensi yakni membandingkan hasil tes dengan tes lain yang paralel. Hal ini dimaksud untuk menghinari faktor pengalaman yang mungkin berpengaruh dalam cara pertama. Karena pembuatan tes yang paralel memakan waktu lama, maka biasanya digunakan split-half methods atau internal consistency technique.
  1. Distandarisasikan
Dalam hal ini dimaksud agar situasi tes benar-benar sama bagi setiap subjek yang dites, sehingga hasilnya dapat dibandingkan dari subjek ke subjek yang lain, dan dari satu masa kemasa yang lain. Hal yang baku disini tentu saja relatif, tergantung dari norma atau standar yang dipakai. Yang perlu dilakukan dalam tes mencakup meteri tes, penyelenggaraan tes, cara memberi skor dan interpretasi hasil (Sumadi Suryasubrata, 1971).
    1. Tes harus objektif
    2. Tes harus komprehensif
    3. Tes harus diskriminatif
    4. Tes harus mudah digunakan dan murah
  1. Kriterium
Kriterium merupakan fakta atau kejadian yang diramalkan oleh tes itu, misalnya kebehasilan belajar, kepuasan bekerja keberhasilan dalam menempuh ujian, keberhasilan dalam mencapai prestasi tertentu, dan lain-lain.
Jenis kriterium menurut Kouwer adalah :
            1. Kriterium objektif, yakni semua fakta tentang prestasi atau erilaku yang dituntut dalam suatu tugas tertentu untuk dikatakan berhasil.
            2. Kriterium subjektif, yaitu pendapat-pendapat subjektif orang yang ahli/kompeten serta orang yang mengetahui permasalahan tertentu tentang prestasi atau perilaku yang harus dicapai.
            3. Kriterium langsung, dalam hal ini kriterium telah ditetapkan berupa bentuk perilaku, sikap atau tindakan yang nyata sebagai ukuran.
            4. Kriterium intermedier, kriterium ini berpatokan pada apa yang harus dicapai subjek selama suatu tugas dilaksanakan.
            5. Kriterium akhir, berkaitan dengan butir 3 dan 4 di atas, pada akhirnya diharapkan seseorang menunjukkan suatu prestasi dan keterampilan tertentu.
Yang perlu di ingat adalah bahwa kriterium tidak hanya ditentukan secara teoritik dan definitif. Harus ada suatu fakta lebih dulu yang dapat diobservasi untuk dapat menentukan apakah benar fakta tersebut dapat menjadi suatu patokan bagi pembentukan kriterium merupakan pekerjaan yang lama dan membutuhkan energi.
  1. Norma suatu tes
Dalam hal ini inilah norma dibenuk, sehingga diperoleh komparasi yang berarti antar individu tersebut. Data yang membentuk norma haruslah data yang representatif dari suatu populasi dimana tes tersebut dirancang untuk digunakan.
Untuk membentuk noema, skor mentah ditransformasikan pada beberapa jenis/distribusi. Biasanya berdasarkan rata-rata hitung sejumlah skor dan pengimpangan bakunya standard deviation/SD.
  1. Metode pemeriksaan kuantitatif dan kualitatif
Dalam metode ini dapat dikatagorikan dalam dua kelas utama, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pada metode kuantitatif, metode pemeriksaan dengan tes mendekati arti yang sebenarnya, karena dilakukan pemeriksaan malalui tes tertantu, untuk kemudian menginterprestasikan hasilnya.
Disamping metode kuantitatif, terdapat pula metode kualitatif dalam pemeriksaan psikologis. Bila dalam pemeriksaan kuantitatif sifatnya seolah-olah subjek tidak diikutsertakan, maka pada pemeriksaan kualitatif subjek justru diikutsertakan.
  1. Etika dalam Pemeriksaan Psikologi
Masalah etika dalam pemeriksaan psikologi berhubungan erat dengan etika bidang psikologi pada umumnya. Seorang diagnostikus tidaklah bebas begitu saja dalam menyelenggarakan suatu pemeriksaan psikologi, meskipun ia sudah cukup kompeten dan ahli dalam menggunakan seperangakat tes. Banyak persyaratan yang dituntut dan harus dipertimbangakan olehnya.
Yang menjadi permasalahan dalam etika pemeriksaan psikologi biasanya mencakup hal berikut ini :
    1. Siapa yang berhak melakukan diagnosis psikologi
    2. Siapa yang bertanggung jawab untuk mengamankan seperangkat tes
    3. bagaimana seharusnya seorang diagnotikus bersikap bertingkah laku dalam menegakan suatu diagnosa psikologi
  1. Siapa yang Berhak Melakukan Diagnosa Psikologi
Ditinjau dari segi penggunaan dan penyelenggaraannya diagnosa psikologi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
            1. Dianosa untuk keperluan pelatihan/pendidikan
            2. Dianosa mengenai prestasi belajar
            3. Dianosa dengan menggunakan tes psikologi
  1. Bagaimana seharusnya seorang diagnostikus bersikap dan bertingkah laku dalam suatu pemeriksaan psikologi
Secara ringkas hal ini dapat diuraikan sebagai berikut :
    1. Etika dalam tes meramalkan/memprediksikan
    2. Etika dalam tes mendeskripsikan
    3. Etika dalam tes menemukan diri sendiri
  1. Syarat untuk membentuk kemampuan dan ketrampilan psikodiagnostik
      1. Mampu membentuk raport dalam arti membangkitkan minat subjek untuk mau dan dapat bekerja sama.
      2. Mampu berempati yaitu memahami perasaan dan kebutuhan orang lain
      3. Mau membangun impretasi yang tepat
      4. Memiliki kematangan pribadi
      5. Mampu bersikap kritis
      6. Memiliki wawasan yang luas
      7. Memiliki kepekaan
      8. Mampu membentuk persepsi
      9. Mampu membntuk penyesian diri
      10. Mampu mengevaluasi diri demi efektivitas

BAB III LINGKUP TES PSIKOLOGI
  1. Jenis Tes
    1. Tes inteligensi
Tes inteligensi pada dasarnya adalah tes untuk mengungkapkan kemampuan umum intelektual seseorang.
    1. Tes Kecakapan
Tes kecakapan mengukur kemampuan-kemampuan khusus individu dan termasuk kecil/sempit dari tes kemampaun yang kemudian dibagi ke dalam dua jenis tes yaitu tes kecakapan tunggal dan tes kecakapan rangkap.
    1. Tes Prestasi
    2. Tes Kreativitas
    3. Tes Kepribadian
    4. Tes Minat dan Bakat
    5. Tes Perilaku
    6. Tes Neuropsikologi
    7. Tes untuk Populasi Berkebutuhan Khusus
  1. Skala Piagetian
  2. Mengetes Orang-orang yang Terbelakang Mental
  3. Mengetes Penyandang Cacat Jasmani
    1. Kerusakan Pendengaran
    2. Kerusakan Penglihatan
    3. Kerusakan Motorik
  4. Testing Multikultural
 

Pendidikan Jasmani Adaptif

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan tentang dan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagaimana anak yang normal, anak tunadaksa sebagai anak berkebutuhan khususpun berhak mendapatkan pendidikan, sehingga merekapun berhak mendapatkan pendidikan jasmani sebagai salah satu proses untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.
Namun tentu saja karakteristik anak tunadaksa yang berbeda dengan anak normal, mengharuskan adanya program khusus dalam pelaksanaan pendidikan jasmani bagi mereka. Program pendidikan jasmani yang dibuat khusus untuk anak berkebutuhan khusus termasuk tunadaksa inilah yang disebut pendidikan jasmani adaptif. Yaitu pendidikan jasmani yang dlam pembelajarannya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan yang dimiliki oleh anak.
Program pendidikan jasmani adaptif bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk di dalamnya anak tunadaksa akan dibuat khusus dan berbeda dengan program pendidikan jasmani bagi anak normal, sehingga perlu adanya modifikasi-modifikasi tertentu dalam kurikulum, strategi pembelajaran, materi dan alat (media) yang digunakan, teknik pembelajaran, serta lingkungan tempat belajar.
Berdasarkan tujuan pendidikan jasmani adaptif yang ada yaitu untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki, membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui pendidikan jasmani tertentu, memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi, menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmaniah dan mentalnya, membantu siswa melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri, membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik, menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton, maka diharapkan dapat mengoptimalkan potensi anak berkebutuhan khusus termasuk anak tunadaksa agar kehidupan mereka semakin bermakna bagi mereka sendiri dan orang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Jasmani Adaptif bagi Anak Tunadaksa
Pada kenyataannya, para siswa penyandang kelainan memiliki kebutuhan yang lebih besar akan gerak, seperti diakui oleh para ahli , justru pendidikan jasmani harus merupakan program utama dari program Pendidikan Luar Biasa secara keseluruhan, karena menjadi dasar atau fondasi bagi peningkatan fungsi tubuh yang sangat diperlukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan jasmani dapat memberikan sumbangan yang sangat bermakna kepada siswa berkebutuhan khusus termasuk tunadaksa. Agar sumbangan tersebut dapat diwujudkan, berarti bahwa kurikulum harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan individual siswa.
Program pendidikan jasmani bagi anak tunadaksa harus spesifik dan keterampilan gerak harus diajarkan dalam pola-pola yang baik, yang bermula dari gerak yang paling sederhana dan bertahap maju ke ketrampilan yang lebih komleks.
Guru sebelum memberikan pengajaran dan pelayanan bagi anak tunadaksa harus diperhatikan hal sebagai berikut:
Segi medisnya: apakah anak memiliki kelainan khusus seperti kencing manis, atau pernah dioperasi, masalah lain seperti harus minum obat dan sebagainya.
Bagaimana kemampuan gerak dan: apakah anak ke sekolah menggunakan transportasi, alat Bantu, dan sebagainya. Ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.
Bagaimana komunikasinya: apakah anak mengalami kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi apa yang digunakan, dan sebagainya.
Bagaimana perawatan dirinya: apakah anak dapat melakukan perawatan diri di dalam aktivitas kegiatan sehari-hari.
Bagaimana posisinya: di sini dimaksudkan tentang bagaimana posisi anak tersebut di dalam menggunakan alat bantu, posisi duduk dalam menerima pelajaran, waktu istirahat, waktu ke kamar kecil (toilet), makan, dan sebagainya. Dalam hal ini Physical Therapis sangat diperlukan.
Dalam pendidikan jasmani adaptif bagi anak tunadaksa guru perlu mengakui bahwa aspek psikologis dari situasi kelas sama dan bahkan lebih penting dari pada tujuan-tujuan substantif pendidikan jasmani. Di samping itu, untuk mampu menjaga motivasi anak tetap tinggi, guru perlu memiliki cara-cra kreatif dalam pengajaran. Guru pendidikan jasmani harus menanamkan pada dirinya sendiri tujuan dan keinginan untuk membantu siswa dalam mengembangkan citra diri positif, mengembangkan hubungan interpersonal yang efektif, mengoreksi kondisi fisik khusus yang masih mungkin diperbaiki, mengembangkan suatu kesadaran keselamatan dan menjadikan anak-anak bugar secara fisik sesuai dengan kapasitasnya.
B. Meningkatkan Potensi Anak Tunadaksa melalui Pendidikan Jasmani Adaptif
Pada dasarnya anak tunadaksa mempunyai potensi-potensi tertentu di balik keterbatasan yang mereka miliki. Termasuk kemampuan atau potensi fisik yang mereka milikipun sesungguhnya tidak kalah dengan anak-anak normal, sehingga anak tunadaksapun dapat melakukan pendidikan jasmani adaptif dengan keadaan fisik yang masih mereka miliki, bahkan kemampuan merekapun dapat dikembangkan menjadi suatu prestasi yang dapat membanggakan.
Anak tunadaksa yang tidak memiliki kedua tangan dan kedua kaki dapat dilatih menjadi perenang yang hebat. Begitu juga anak tunadaksa yang tidak mempunyai kedua tangan, masih dapat melakukan kegiatan olahraga lain seperti lompat jauh atau lompat tinggi jika dilatih dengan baik. Contoh lain anak tunadaksa yang tidak mempunyai kedua kaki dapat bermain basket meskipun dengan kursi roda.
Potensi yang bisa dikembangkan dari diri anak tunadaksa dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton atau bahkan yang berhubungan dengan olah raga yang begitu dekat dengan pendidikan jasmani adaptif sesungguhnya sangat banyak, dan semuanya hanya dapat diperoleh dengan berbagai latihan melalui pendidikan jasmani adaptif. Sehingga anak tunadaksa dapat memahami mereka sendiri yang sebagai pelaku dalam olah raga tersebut.
Namun sebenarnya anak tunadaksa tidak hanya memiliki potensi di bidang olah raga saja, karena sejatinya banyak di antara anak tunadaksa yang memiliki IQ rata-rata anak normal bahkan ada yang di atas rata-rata, sehingga potensi akademik dan potensi sosialpun dapat dikembangkan.
Sebagai contoh, meski dengan keterbatasan fisiknya anak tunadaksa dapat dilatih untuk bersosialisasi dan melakukan penyesuaian sosial denagn pendidikan jasmani adaptif, karena dalam pendidikan jasmani anak tuna daksa dapat tetap bermain dan berolah raga bersama teman-temannya yang normal. Hanya saja mereka menggunakan aturan yang berbeda. Kebersamaan anak tunadaksa dengan anak normal inilah tempat untuk mengasah kemampuan dan potensi sosial yang mereka miliki. Apalagi dengan IQ yang normal anak tunadaksa akan lebih mudah menjalani kehidupannya meski dengan keterbatasan kondisi fisiknya.
Dengan kemampuan sosial dan inteligensi yang normal anak dapat menjadi seorang public relation, atau juga dapat menjadi seorang motivator yang dapat memotivasi orang lain untuk melakukan seperti apa yang dia lakukan sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Banyak juga sisi-sisi kehidupan dan lapangan pekerjaan lain yang memerlukan kemampuan bersosialisasi, sehinga dengan potensi ini anak tunadaksapun dapat mengambil bagian di dalam lapangan tersebut.
Kondisi fisik yang terbatas diharapkan dapat dikoreksi, dikembalikan atau ditambah fungsinya melalui pendidikan jasmani adaptif ini. Dengan pendidikan jasmani adaptif ini anak akan dilatih bagaimana melindungi diri dari kondisi yang memperburuk keadaannya, sehingga dengan tercapainya tujuan pendidikan jasmani adaptif anak tunadaksa dapat mencapai potensi terbaik yang dimiliki dan dapat diberikan terlepas dari semua keterbatasan kondisi fisiknya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa anak berkebutuhan khusus termasuk di dalamnya anak tunadaksa tetap berhak mendapatkan pendidikan, termasuk pendidikan jasmani adaptif sebagai suatu proses pendidikan tentang dan melalui aktivitas jasmani, pemainan, atau olahraga terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pendidikan jasmani pada anak berkebutuhan khusus termasuk anak tunadaksa adalah pendidikan jasmani adaptif yaitu pendidikan jasmani yang dibuat khusus untuk anak tunadaksa yang dirancang dan dimodifikasi sesuai dengan karakteristik fisik dan psikologis anak berkebutuhan khusus untuk memenuhi kebutuhan khusus tersebut.
Pada dasarnya anak tunadaks amemiliki potensi yang tidak berbeda dengan potensi yang dimiliki oleh anak normal. Potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan jasmani adaptif.
Potensi yang dimiliki anak tunadaksa yang dapat dikembangkan dengan pendidikan jasmani adapti di antaranya adalah potensi di bidang olahraga. Selain itu anak tunadaksa juga dapat dikembangkan potensi sosialnya melalui pendidikan jasmani adaptif.
Sebagian dari tujuan pendidikan jasmani adaptif bagi anak tunadaksa adalah agar anak tunadaksa mampu mencapai dan mempergunakan potensi tertinggi mereka, terlepas dari keterbatasan yang mereka miliki.
Dengan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak tunadaksa, diharapkan anak mampu mencapai kemandirian dalam hidup, dan menjadikan hidup mereka lebih bermakna bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
B. Saran
Bagi guru agar selalu memperhatikan bahwa kenyataannya anak tunadaksa memiliki kebutuhan untuk bergerak yang lebih besar dari pada anak normal, sehingga seyogyanya guru tidak membatasi gerak yang dilakukan oleh anak tunadaksa, tetapi harus tetap memperhatikan agar gerakan itu sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak.
Guru harus menyadari bahwa aspek psikologis dari situasi kelas sama bahkan lebih penting dari pada tujuan-tujuan substantif pendidikan jasmani. Sehingga guru harus mampu menciptakan suasana yang sesuai dengan psikologis anak dan menjaga agar motivasi anak tetap tinggi.
Guru harus menanamkan pada dirinya bahwa tujuannya adalah membantu siswa mengembangkan citra diri positif dalam diri anak, dan mampu menggali potensi di balik keterbatasan fisiknya, sehingga anak dapat menjadi anak yang bugar secara fisik sesuai dengan kapasitasnya.
Dalam menggali dan mengembangkan potensi anak tunadaksa sesungguhnya bukan merupakan kewajiban guru pendidikan jasmani saja, tetapi memerlukan kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti guru kelas, guru bidang studi, maupun orang tua dan teman sebaya anak, sehingga semua unsur yang berperan dalam pengembangan fungsi itu harus dapat bekerja sama dengan baik.
Membangkitkan motivasi untuk berprestasi kepada anak tunadaksa merupakan jalan yang tepat agar anak mau menggali dan mengembangkan potensinya. Karena tanpa ada kemauan dan motivasi dari internal anak tunadaksa, tidak akan mungkin dapat mencapai prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak tunadaksa tersebut. Pada umumnya anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Agar anak tuna daksa dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mobil perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:
1. Pulley Weight
2. Kanavel Table
3. Squeez Ball
4. Restorator Hand
5. Restorator Leg
6. Treadmill Jogger
7. Safety Walking Strap
8. Straight (tangga)
9. Sand-Bag
10. Exercise Mat
11. Incline Mat
12. Neuro Development Rolls
13. Height Adjustable Crowler
14. Floor Sitter
15. Kursi CP
16. Individual Stand-in Table
17. Walking Paralel
18. Walker Khusus CP
19. Vestibular Board
20. Balance Beam Set
21. Dynamic Body and Balance
22. Kolam Bola-bola
23. Vibrator
24. Infra-Red Lamp (Infra Fill)
25. Dual Speed Massager
26. Speed Training Devices
27. Bola karet
28. Balok berganda
29. Balok titian
c. Alat Bina Diri
Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Keterbatasan atau hambatan tersebut mengakibatkan anak tunadaksa mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Agar anak tuna daksa dapat melakukan perawatan diri dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:
1. Swivel Utensil
2. Dressing Frame Set
3. Lacing Shoes
4. Deluxe Mobile Commade
d. Alat Orthotic dan Prosthetic
Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh, karena kondisi tubuh mengalami kelainan. Agar anak tuna daksa dapat melakukan ambulasi dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu alat bantu (orthotic dan prosthetic). Alat-alat yang dapat digunakan meliputi:
1. Cock-Up Resting Splint
2. Rigid Immobilitation Elbow Brace
3. Flexion Extention
4. Back Splint
5. Night Splint
6. Denish Browans Splint
7. X Splint
8. O Splint
9. Long Leg Brace Set
10. Ankle or Short Leg Brace
11. Original Thomas Collar
12. Simple Cervical Brace
13. Corsett
14. Crutch (kruk)
15. Clubfoot Walker Shoes
16. Thomas Heel Shoes
17. Wheel Chair (Kursi Roda)
18. Kaki Palsu Sebatas Lutut
19. Kaki Palsu Sampai Paha
e. Alat Bantu Belajar/Akademik
Layanan pendidikan untuk anak tunadaksa mencakup membaca, menulis, berhitung, pengembangkan sikap, pengetahuan dan kreativitas. Akibat mengalami kelainan pada motorik dan intelegensinya, maka anak tunadaksa mengalami kesulitan dalam menguasai kemampuan membaca, menulis, berhitung.
Untuk membantu penguasaan kemampuan di bidang akademik, maka dibutuhkan layanan dan peralatan khusus. Alat-alat yang dapat membantu mengembangkan kemampuan akademik pada anak tunadaksa dapat berupa:
1. Kartu Abjad
2. Kartu Kata
3. Kartu Kalimat
4. Torso Seluruh Badan
5. Geometri Sharpe
6. Menara Gelang
7. Menara Segitiga
8. Menara Segiempat
9. Gelas Rasa
10. Botol Aroma
11. Abacus dan Washer
12. Papan Pasak
13. Kotak Bilangan
2. Pembelajaran Adaptif dalam Pendidikan Jasmani bagi ABK
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan luar biasa(PLB).
PLB merupakan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan ABK. Adapun yang dirancang dalam PLB adalah kelas, program dan layanannya. Sehingga PLB dapat diartikan juga sebagai Spesial kelas, program atau layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak luar biasa.
ABK bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar.
Di satu sisi, Anak luar Biasa harus dapat mandiri, beradaptasi, dan bersaing dengan orang normal, di sisi lain ia tidak secara otomatis dapat melakukan aktivitas gerak. Secara tidak disadari akan berdampak kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan fisik dan keterampilan geraknya. Pendidikan jasmani bagi ABK disamping untuk kesehatan juga harus mengandung pembetulan kelainan fisik.
Dengan uraian di atas maka jelas bahwa Pendidikan jasmani yang diadaptasi dan dimodifikas sesuai dengan kebutuhan, jenis kelainan dan tingkat kemampuan ABK merupakan salah satu factor yang sangat menentukan dalam keberhasilan Pendidikan bagi ABK. Keberhasilan ini akan terwujud baik pada PLB dalam bentuk kelas khusus, program khusus, maupun dalam bentuk layanan khusus di SD biasa maupun di tiap jenjang sekolah biasa lainnya.
Apa dan bagaimana pendidikan jasmani bagi ABK atau Pendidikan Jasmani adaptif secara sederhana akan diuraikan dibawah ini:
a. Pengertian pendidikan jasmani adaptif
Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan.
Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor.
Hampir semua jenis ketunaan ABK memiliki problim dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian ABK bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.
b. Ciri dari program pengajaran penjas Adaptif
Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:
a.    Program Pengajaran Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai korsi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiatan tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkorsi roda dimodifikasi. Demikian dengan kegiatan yang lainnya. Oleh karena itu pendidikan Jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
b.    Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan Jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaanya.
c.    Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan Jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progressif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya.
Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut di atas. maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berprilaku dan bersikap sebagai subjek bukan sebagai objek di lingkungannya.
c. Tujuan pendidikan jasmani adaptif.
Sebagaimana dijelaskan di atas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptif dalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendidikan Jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:
a.    Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
b.    Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
c.    Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
d.    Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
e.    Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
f.    Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan appresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
g.    Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton.
d. Modifikasi dalam pendidikan jasmani adaptif
Bila kita lihat masalah dari kelainannya, jenis Anak Berkebutuhan Khusus dikelompokkan menjadi:
a. ABK yang memiliki masalah dalam sensoris
b. ABK yang memiliki masalah dalam gerak dan motoriknya
c. ABK yang memiliki masalah dalam belajar
d. ABK yang memiliki masalah dalam tingkah lakunya
Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK.
Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:
a. Modifikasi aturan main dari aktifitas pendidikan jasmani.
b. Modifikasi keterampilan dan tehniknya .
c. Modifikasi tehnik mengajarnya.
d. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya
Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergatung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.
3. Model Pembelajaran Jasmani untuk Tuna Daksa
Pada saat kami melakukan observasi, siswa tuna daksa yang kami temui adalah tuna daksa golongan ringan dan golongan berat. Siswa yang kami temui dan termasuk tuna daksa golongan ringan memiliki kekurangan yaitu kehilangan tangan sebelah kiri. Variasi olahraga yang cocok untuk tuna daksa golongan ringan adalah olahraga seperti biasanya tapi hanya tidak menggunakan tangan kirinya. Misalnya bermain voli, basket, sepak bola, dll.
Sedangkan siswa lain yang kami temui adalah siswa tuna daksa golongan berat. Dia memiliki kekurangan tangan kirinya tidak berfungsi dan kakinya lumpuh sehingga dia menggunakan kursi roda untuk berjalan. Olahraga yang cocok untuk golongan berat ini antara lain:
1.    Olahraga lempar tangkap bola dari tangan kanan ke tangan kiri mulai dari bola kecil sampai bola yang agak besar.
2.    Bermain basket tapi menggunakan bola yang agak ringan misalnya bola plastic, menggunakan Ring yang relative rendah sehingga mudah untuk memasukkan bolanya, dan menggunakan aturan yang simple (tidak standard).
3.    Senam dan olah tubuh sehingga mempunyai peran ganda yaitu selain menyehatkan tubuh juga bisa sebagai sarana terapi untuk tangan kirinya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.    Pengertian Tuna Daksa adalah bahasa kasar Indo nya adalah cacat, dan bahasa halus adalah Tuna Daksa (alias cacat tubuh). Definisi Tuna Daksa Menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Tuna Daksa berasal dari kata “Tuna“ yang berarti rugi, kurang dan “daksa“ berarti tubuh.
2.    Pendidikan luar biasa(PLB) merupakan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan ABK. Adapun yang dirancang dalam PLB adalah kelas, program dan layanannya. Sehingga PLB dapat diartikan juga sebagai Spesial kelas, program atau layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak luar biasa. Pendidikan jasmani bagi ABK disamping untuk kesehatan juga harus mengandung pembetulan kelainan fisik.
4.    Olahraga yang cocok untuk golongan berat ini antara lain:
·    Olahraga lempar tangkap bola dari tangan kanan ke tangan kiri mulai dari bola kecil sampai bola yang agak besar.
·    Bermain basket tapi menggunakan bola yang agak ringan misalnya bola plastic, menggunakan Ring yang relative rendah sehingga mudah untuk memasukkan bolanya, dan menggunakan aturan yang simple (tidak standard).
·    Senam dan olah tubuh sehingga mempunyai peran ganda yaitu selain menyehatkan tubuh juga bisa sebagai sarana terapi untuk tangan kirinya.

PEMBASAN TUNA NETRA



  1. Definisi
  1. Tuna Netra
    Tuna netra adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indera penglihatan.Tuna netra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain:
  • Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter.
  • Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
  • Bidang penglihatannya tidak lebih luas dari 20 derajat.
  1. Low vision
    Berdasarkan definisi World Health Organization (WHO), seseorang dikatakan low vision apabila:
  • Memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan.
  • Mempunyai ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 sampai dapat menerima persepsi cahaya.
  • Luas penglihatan kurang dari 10 derajat dari titik.
  • Secara potensial masih dapat menggunakan penglihatannya untuk perencanaan atau pelaksanaan suatu tugas.
  1. Klasifikasi
Klasifikasi tuna netra secara garis besar dibadi empat yaitu:
  1. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan.
  • Tuna netra sebelum dan sejak lahir, yakni mereka yang sama sekali tidak memilliki pengalaman penglihatan.
  • Tuna netra setelah lahir atau pada usia kecil, mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
  • Tuna netra pada usia sekolah atau pada masa remaja, mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meniggalkan pengaruh yang mendalam erhadap proses perkembangan pribadi.
  • Tuna netra pada usia dewasa, pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
  • Tuna netra dalam usia lebih lanjut, sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
  1. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan.
  • Tuna netra ringan (low vision), yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  • Tuna netra setengah berat (partially sighted), yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang becetak tebal.
  • Tuna netra berat (totally blind), yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.




  1. Berdasarkan pemeriksaan klinis .
  • Tuna netra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
  • Tuna netra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.




  1. Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata.
  • Myopia adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek di dekatkan . untuk membantu proses penglihatan pada penderita myopia digunakan kaca mata koreksi dengan lensa negative.
  • Hyperopia adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek di jauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita hyperopia digunakan kaca mata koreksi dengan lensa positif.
  • Astigmatisme adalah penyimpangan atau penglihatan kabut yang disebabkan karena ketidakberesan pada kaca mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kaca mata koreksi dengan lensa silindris.




  1. Karakteristik.
  1. Tuna netra.
    1. Fisik
      Keadaan fisik anak tuna netra tidak berbeda dengan anak sebaya lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanyalah terdapat pada organ penglihatannya.
Gejala tuna netra yang dapat dialami dari segi fisik diantaranya:
  • Mata juling
  • Sering berkedip
  • Menyipitkan mata
  • Kelopak mata merah
  • Mata infeksi
  • Gerakan mata tak beraturan dan cepat
  • Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
  • Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata
    1. Perilaku
      Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini, antara lain:
  • Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau mencondongkan kepala ke depan
  • Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat memerlukan penggunaan mata.
  • Berkedip lebih banyak dari pada biasaya atau lekas marah apabila mengerjakan suatu pekerjaan.
  • Membawa bukunya ke dekat mata
  • Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh
  • Menyipitkan mata atau mengerutkan dahi
  • Tidak tertarik perhatiaanya pada objek penglihatan atau tugas-tugas yang memerlukan penglihatan seperi menggambar dan menulis
  • Janggal dalam bermain yang memerlukan kerja sama tangan dan mata
  • Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau memerlukan penglihatan jarak jauh
  • Mata gatal, panas, atau merasa ingin menggaruk karena gatal
  • Banyak mengeluh tentang ketidakmampuan dalam melihat
  • Merasa pusing atau sakit kepala
  • Kabur atau penglihatan ganda


    1. Psikis
Secara psikis anak tuna netra dapat dijelaskan, sebagai berikut:
  • Intelektual atau kecerdasan anak tuna netra umumya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tuna netra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar, dan ada yang kurang pintar.
  • Tuna netra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah antara lain curiga terhadap orang lain, perasaan mudah tersinggung, dan ketergantungan yang berlebihan.


  1. Low vision
Beberapa cirri yang tampak pada anak low vision antara lain:
  • Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat
  • Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar
  • Mata tampak lain, terlihat putih di tengah mata (katarak) atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut
  • Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat mencoba melihat sesuatu
  • Lebih sulit melihat pada malam hari dari pada siang hari
  • Pernah menjalani operasi mata atau memakai kaca mata yang sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas




  1. Kebutuhan
Tuna netra atau low vision memiliki kebutuhan-kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari antara lain:
  • Tulisan Braille
  • Reglet dan stilus
  • White stick
  • Kaca mata pembesar
  • Orientasi mobilitas.


Lima langkah kegiatan identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  1. Screening
Screening dilakukan untuk mengidentifikasi siswa yang mungkin mempunyai problem belajar secara serius dan memerlukan pelayanan melalui pendidikan luar biasa. Pada tahap screening dapat digunakan tes formal maupun informal.




  1. Pengalihtanganan/rujukkan (referral)
Hasil kegiatan pada tahap screening, dapat dilakukan untuk mengelompokkan anak yang memerlukan pelayanan khusus dan yang tidak. Sebab jika ditemukan ada anak yang memenuhi syarat dapat dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pelayanan khusus pihak sekolah mungkin berhak mendapatkan dana dari pemerintah untuk membantu membayar pelayanan khusus tersebut. Proses ini juga berfungsi sebagai alat untuk pengalihtanganan kasus dari kasus pendidikan menjadi kasus kesehatan, kejiwaan ataupun kasus sosial ekonomi. Ada bagian yang tidak mungkin ditangani oleh guru sendiri, sehingga membutuhkan bantuan ahli lain.




  1. Perencanaan Pembelajaran Individual (PPI)


Dengan berbekal data yang diperoleh dalam kegiatan asesmen, maka akan tergambar berbagai potensi maupun masalah yang dialami anak. Guru dapat menyusun program intervensi yang cocok bagi anak sesuai dengan kebutuhannya, tetapi mungkin tidak cocok bagi anak yang lain. Ada program penguatan atas potensi yang dimiliki, dan ada pula program yang sifatnya teraputik atas aspek yang secara nyata mengalami gangguan.




  1. Monitoring kemajuan belajar
Dengan menggunakan acuan PPI yang telah disusun pada tahap sebelumnya, maka guru dapat melakukan monitoring terhadap kemajuan belajar yang dicapai siswa. Keberhasilan atau kegagalan perlu dikembalikan kepada hasil asesmen awal yang dijadikan dasar dalam penyusunan PPI. Jika terjadi kegagalan, salah satu faktor penyebabnya adalah kesalahan dalam proses asesmen.




  1. Evaluasi program
Dengan asesmen, program intervensi disusun. Dari asesmen program dilaksanakan, dan dari asesmen kemajuan belajar dapat dipantau. Selanjutnya dari asesmen pula, program dapat di evaluasi. Dengan demikian asesmen diperlukan untuk keperluan mengevaluasi program.


Makalah Ortopedi “Poliomielitis”

BAB I
PENDAHULUAN
Kelainan gerak merupakan suatu bentuk gangguan yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kelainan gerak akan segera mudah diketahui karena menyangkut adanya perubahan bentuk tubuh dari penyandangnya. Banyaknya penyakit yang melatarbelakangi sebab-sebab kelainan gerak dapat menyulitkan dalam mengetahui jenis kelainan gerak serta tingkat berat ringannya gangguan yang dialami oleh masing-masing penyandangnya. Dalam makalah kali ini akan dibatasi pada pembahasan tentang Poliomielitis, dengan pembatasan ini diharapkan dapat mempermudah dalam memahami penyakit Poliomielitis. Pembatasan penyakit Poliomielitis akan meliputi hal-hal sebagai berikut: pengertian, etiologi (sebab-sebab), protogenesa, gejala-gejala, kelainan fungsi, komplikasi, prognosis, dan prinsip penanganan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian
Poliomielitis atau polio adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus yang dinamakan poliovirus (PV), virus ini masuk ke dalam tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan melemahnya otot, kelumpuhan, bahkan kematian. Penyakit poliomielitis sesungguhnya bukan penyakit pertama pada otot-otot, tetapi penyakit yang menyerang mielium. Terutama sel-sel penggerak yang terdapat pada bagian muka mielium tadi. Oleh karena itu kelainan yang timbul berkisar pada otot dengan bentuk kelumpuhan yang bersifat layuh (flaksid paralise). Penyakit ini pada umumnya tidak mengganggu kecerdasan ataupun ala-alat indera.
Poliomielitis ditemukan oleh Heine Medin pada tahun 1840. Pada awalnya poliomielitis lebih banyak ditemukan pada usia 5 tahun, tetapi jarang ditemukan pada anak usia 6 bulan. Hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan antara lain anak telah mendapatkan kekebalan (imunitas) pasif yang diperoleh ibunya melalui plasenta dan adanya infeksi yang ditimbulkan dari kesehatan lingkungan yang buruk.

B.Etiologi (Penyebab)
Telah dijelaskan di atas bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus polio. Ada tiga tipe virus, yang pertama strain 1 (brunhilde), strain 2 (lanzig), dan strain 3 (leon). Strain 1 (brunhilde) paling ganas, dan sering menyebabkan wabah. Sedangkan strain 2 (lanzig) yang paling jinak. Penyakit ini menular melalui kontak antar manusia. Kontak dapat melalui penularan dari feses orang terinfeksi yang mengkontaminasi makanan dan minuman, untuk kemudian masuk ke dalam mulut calon penderita. Setelah seseorang terkena infeksi polio, virus akan keluar bersama feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.
Selain virus polio yang dapat menimbulkan kelumpuhan yang menyerupai poliomielitis adalah virus echo dan coxsackie. Penyebaran penyakit yang bersifat masal dan banyak menyerang orang karena sifatnya yang akut biasanya penyebabnya adalah virus tipe leon. Sedangkan tipe-tipe yang lain seperti tipe lanzig paling jarang menimbulkan kelumpuhan.

C.Patogenesa
Virus polio menyebar melalui saluran pencernaan, dimulai dari mulut, tenggorokan, dan saluran pencernaan bagian bawah. Di tempat tersebut virus akan menimbulkan infeksi, dalam satu hari infeksi akan menyebar ke kelenjar getah bening, tonsil, usus halus, dan juga ke kelenjar mesentrium yang terdapat dalam usus. Hari ketiga virus berada dalam darah, kemudian terjadi penyebaran ke tempat lain sebagai infeksi sekunder. Pada infeksi sekunder terjadi multiplikasi virus bersamaan dengan gejala-gejala klinis.
Selain cara tersebut, virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui suntikan. Melalui suntikan tersebut virus masuk saraf dan menyebabkan kelumpuhan, cara lain lagi melalui operasi tonsil (tonsilektomi).
Dengan masuknya virus polio ke dalam tubuh dan adanya perkembangan biak virus pada tonsil dan usus sehingga berakibat terjadinya kerusakan pada sel saraf (mielium), maka tubuh akan menunjukan reaksi-reaksi yang dapat merupakan gejala-gejala sebagai petunjuk diagnose polio.

D.Gejala-gejala
Kelmpuhan secara umum berbentuk flaksid paralise merupakan manifestasi yang paling nyata menunjukkan adanya kerusakan sel saraf. Rasa sakit atau nyeri, spastisitas, hipertonus stadium dini diakibatkan oleh gangguan pada batang otak, ganglia spinalis, dan cornu posterior medulla spinalis.
Gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokan, antara lain sebagai berikut:
a.Silent infection
Pada tahap ini anak terserang penyakit poliomielitis sama sekali tidak menunjukkan gejala apa-apa dan hanya dapat diketahui bila melakukan pemeriksaan laboratorium.


b.Abortive poliomielitis
Pada tahap ini sudah ada gejala tetapi belum begitu jelas. Baru dicurigai, jika orang yang baru tersebut baru kontak dengan penderita poliomielitis. Gejala bias berupa panas, lemas, tidak ada nafsu makan, muntah-muntah, sakit kepala, nyeri menelan, batuk, pilek.
c.Non paralitik poliomielitis
Gejala-gejalanya hampir sama dengan abortive poliomielitis tetapi lebih hebat lagi, seperti nyeri kepala, muntah-muntah, disertai dengan nyeri dan kekakuan pada otot-otot leher bagian belakang, badan dan anggota gerak tubuh mengalami hipertonus.
d.Paralitik poliomielitis
Gejala mula-mula seperti non paralitik poliomielitis, lalu disusul dengan periode tanpa gejala tampak seperti penyakit. Kelumpuhan juga dapat terjadi pada kandung kencing selama 1-34 hari dan hilangnya kekuatan ketegangan otot usus, kadang-kadang menjadi penyakit usus berbelit.

E. Kelainan fungsi akibat poliomielitis
Kelainan fungsi akibat poliomielitis adalah adanya hambatan pada seseorang yang menyandang penyakit poliomielitis dikarenakan adanya kelumpuhan dan sifatnya menetap. Akibat kelumpuhan bisa menimbulkan hambatan tidak saja dari segi penampilan tetapi juga terhadap kegitan hidup sehari-hari.
Kelainan fungsi yang timbul diantaranya adalah:
a.Kelainan fungsi komunikasi
Kelainan fungsi komunikasi akan terjadi apabila terjadi hambatan pada saluran pernafasan, tetapi hal ini jarang terjadi pada anak polio.
b.Kelainan fungsi memelihara diri sendiri
Kelainan fungsi ini timbul jika ada kelainan pada anggiota gerak atas atau kelumpuhan pada otot badan. Kelainan ini menyebabkan kesulitan memegang, dan kesulitan berpindah tempat.


c.Kelainan fungsi mobilisasi
Kelainan ini akan timbul apabila anggota gerak bawah mengalami kelumpuhan. Kelainan fungsi mobilisasi bisa terjadi sejak anak berguling, merangkak, duduk, berdiri, sampai berjalan.
d.Keleainan fungsi sosial psikologis
Anak akan merasa rendah diri sehingga mengakibatkan terhambatnya penyesuaian sosial.
e.Kebutuhan fungsi mental
Kelainan fungsi mental pada anak polio timbul jika anak mengalami gangguan sosial psikologis. Anak polio umumnya mampu mengikuti pendidikan pada sekolah biasa.

F.Komplikasi
Ada beberapa kemungkinan komplikasi dan akibat penyakit poliomielitis antara lain:
a.Kontraktur sendi
Yang sering terkena kontraktur antara lain sendi paha, lutut, dan pergelangan kaki.
b.Pemendekan anggota gerak bawah
Biasanya akan tampak salah satu tungkai lebih pendek dibandingkan tungkai yang lainnya, disebabkan karena tungkai yang pendek mengalami antropi otot.
c.Skoliosis
Tulang belakang melengkung ke salah satu sisi, disebabkan kelumpuhan sebagian otot punggung dan juga kebiasaan duduk atau berdiri yang salah.
d.Kelainan telapak kaki
Kelainan telapak kaki dapat berupa kaki membengkok ke luar atau ke dalam.
e.Dislokasi
Yaitu sendi terkilir, dapat terjadi pada sendi lutut, panggul, dan pergelangan kaki.



G.Prognosis
Beberapa kemungkinan yang terjadi pada anak yang terserang poliomielitis diantaranya:
a.Kematian
Hanya ditemukan 4% pada kasus poliomielitis. Yang banyak menimbulkan kematian adalah tipe brunhilde.
b.Kelumpuhan
Pada bentuk spinal dengan kelumpuhan penyembuhan secara sempurna hanya terjadi sekitar 20% kasus dan 50% menunjukkan gejala sisa.
Kemungkinan yang terjadi setelah penyakit poliomielitis sembuh, yaitu yang berhubungan dengan kelainan fungsi adalah bila dalam 6 bulan belum ada perbaikan secara menyeluruh maka pemulihan fungsi di tangguhkan sampai 2-3 tahun.

H.Prinsip penanganan
Ada dua macam penanganan poliomielitis, yaitu:
a.Penanganan pada saat seseorang masih menderita penyakit poliomielitis.
b.Penanganan pada saat seseorang telah sembuh dari penyakit poliomielitis.
Penanganan yang diberikan disesuaikan dengan gejala-gejala yang muncul, seperti silent infection cukup dengan istirahat, tahap abortive polio dengan istirahat dan pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan kelainan muskuloskeletal (system gerak tubuh), tahap non paralitik dengan istirahat total sedikitnya dua minggu dan dengan observasi lebih teliti karena setiap saat dapat terjadi kelumpuhan pernafasan.
Untuk penanganan tahap akut berdasarkan pada gejala yang timbul, misalnya rasa nyeri otot diberi obat penghilang sakit atau di beri pembalut hangat. Setelah tahap akut berlalu tindakan ditujukkan untuk mengatasi akibat sekunder berupa kelainan fungsi. Penanganannya dengan mencegah komplikasi antropi ataupun kontraktur yang mungkin timbul diantaranya melalui latihan gerak sendi atau meletakkan anggota tubuh pada posisi yang sesuai.

BAB III
KESIMPULAN

Poliomielitis atau polio adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus yang dinamakan poliovirus (PV). Penyebab polio adalah virus, ada tiga tipe virus polio yaitu:
a.Strain 1 (Brunhilde)
b.Strain 2 (Lanzig)
c.Strain 3 (Leon)
Virus polio menyebar melalui saluran pencernaan, dimulai dari mulut, tenggorokan, dan saluran bagian pencernaan bagian bawah. Gejala-gejala polio yang timbul dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.Silent infection
b.Abortive poliomielitis
c.Non paralisis poliomielitis
d.Paralitik poliomielitis
Kelainan fungsi yang biasa di alami oleh penderita poliomielitis antara lain:
a.Kelainan fungsi komunikasi
b.Kelainan fungsi memelihara diri
c.Kelainan fungsi mobilisasi
d.Kelainan fungsi sosial psikologis
e.Kelainan fungsi mental.
Ada beberapa kemungkinan komplikasi dan akibat penyakit poliomielitis yaitu:
a.Kontraktur sendi
b.Pemendekan anggota gerak bawah
c.Skoliosis
d.Kelainan telapak kaki
e.Dislokasi