GOLEK-GOLEK

Memuat...

Selasa, 29 Maret 2011

PEMBASAN TUNA NETRA



  1. Definisi
  1. Tuna Netra
    Tuna netra adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indera penglihatan.Tuna netra memiliki keterbatasan dalam penglihatan antara lain:
  • Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter.
  • Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
  • Bidang penglihatannya tidak lebih luas dari 20 derajat.
  1. Low vision
    Berdasarkan definisi World Health Organization (WHO), seseorang dikatakan low vision apabila:
  • Memiliki kelainan fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan.
  • Mempunyai ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 sampai dapat menerima persepsi cahaya.
  • Luas penglihatan kurang dari 10 derajat dari titik.
  • Secara potensial masih dapat menggunakan penglihatannya untuk perencanaan atau pelaksanaan suatu tugas.
  1. Klasifikasi
Klasifikasi tuna netra secara garis besar dibadi empat yaitu:
  1. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan.
  • Tuna netra sebelum dan sejak lahir, yakni mereka yang sama sekali tidak memilliki pengalaman penglihatan.
  • Tuna netra setelah lahir atau pada usia kecil, mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
  • Tuna netra pada usia sekolah atau pada masa remaja, mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meniggalkan pengaruh yang mendalam erhadap proses perkembangan pribadi.
  • Tuna netra pada usia dewasa, pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
  • Tuna netra dalam usia lebih lanjut, sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
  1. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan.
  • Tuna netra ringan (low vision), yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  • Tuna netra setengah berat (partially sighted), yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang becetak tebal.
  • Tuna netra berat (totally blind), yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.




  1. Berdasarkan pemeriksaan klinis .
  • Tuna netra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
  • Tuna netra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.




  1. Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata.
  • Myopia adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek di dekatkan . untuk membantu proses penglihatan pada penderita myopia digunakan kaca mata koreksi dengan lensa negative.
  • Hyperopia adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek di jauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita hyperopia digunakan kaca mata koreksi dengan lensa positif.
  • Astigmatisme adalah penyimpangan atau penglihatan kabut yang disebabkan karena ketidakberesan pada kaca mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kaca mata koreksi dengan lensa silindris.




  1. Karakteristik.
  1. Tuna netra.
    1. Fisik
      Keadaan fisik anak tuna netra tidak berbeda dengan anak sebaya lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanyalah terdapat pada organ penglihatannya.
Gejala tuna netra yang dapat dialami dari segi fisik diantaranya:
  • Mata juling
  • Sering berkedip
  • Menyipitkan mata
  • Kelopak mata merah
  • Mata infeksi
  • Gerakan mata tak beraturan dan cepat
  • Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
  • Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata
    1. Perilaku
      Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini, antara lain:
  • Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau mencondongkan kepala ke depan
  • Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat memerlukan penggunaan mata.
  • Berkedip lebih banyak dari pada biasaya atau lekas marah apabila mengerjakan suatu pekerjaan.
  • Membawa bukunya ke dekat mata
  • Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh
  • Menyipitkan mata atau mengerutkan dahi
  • Tidak tertarik perhatiaanya pada objek penglihatan atau tugas-tugas yang memerlukan penglihatan seperi menggambar dan menulis
  • Janggal dalam bermain yang memerlukan kerja sama tangan dan mata
  • Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau memerlukan penglihatan jarak jauh
  • Mata gatal, panas, atau merasa ingin menggaruk karena gatal
  • Banyak mengeluh tentang ketidakmampuan dalam melihat
  • Merasa pusing atau sakit kepala
  • Kabur atau penglihatan ganda


    1. Psikis
Secara psikis anak tuna netra dapat dijelaskan, sebagai berikut:
  • Intelektual atau kecerdasan anak tuna netra umumya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tuna netra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar, dan ada yang kurang pintar.
  • Tuna netra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah antara lain curiga terhadap orang lain, perasaan mudah tersinggung, dan ketergantungan yang berlebihan.


  1. Low vision
Beberapa cirri yang tampak pada anak low vision antara lain:
  • Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat
  • Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar
  • Mata tampak lain, terlihat putih di tengah mata (katarak) atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut
  • Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat mencoba melihat sesuatu
  • Lebih sulit melihat pada malam hari dari pada siang hari
  • Pernah menjalani operasi mata atau memakai kaca mata yang sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas




  1. Kebutuhan
Tuna netra atau low vision memiliki kebutuhan-kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari antara lain:
  • Tulisan Braille
  • Reglet dan stilus
  • White stick
  • Kaca mata pembesar
  • Orientasi mobilitas.


Lima langkah kegiatan identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  1. Screening
Screening dilakukan untuk mengidentifikasi siswa yang mungkin mempunyai problem belajar secara serius dan memerlukan pelayanan melalui pendidikan luar biasa. Pada tahap screening dapat digunakan tes formal maupun informal.




  1. Pengalihtanganan/rujukkan (referral)
Hasil kegiatan pada tahap screening, dapat dilakukan untuk mengelompokkan anak yang memerlukan pelayanan khusus dan yang tidak. Sebab jika ditemukan ada anak yang memenuhi syarat dapat dikategorikan sebagai anak yang memerlukan pelayanan khusus pihak sekolah mungkin berhak mendapatkan dana dari pemerintah untuk membantu membayar pelayanan khusus tersebut. Proses ini juga berfungsi sebagai alat untuk pengalihtanganan kasus dari kasus pendidikan menjadi kasus kesehatan, kejiwaan ataupun kasus sosial ekonomi. Ada bagian yang tidak mungkin ditangani oleh guru sendiri, sehingga membutuhkan bantuan ahli lain.




  1. Perencanaan Pembelajaran Individual (PPI)


Dengan berbekal data yang diperoleh dalam kegiatan asesmen, maka akan tergambar berbagai potensi maupun masalah yang dialami anak. Guru dapat menyusun program intervensi yang cocok bagi anak sesuai dengan kebutuhannya, tetapi mungkin tidak cocok bagi anak yang lain. Ada program penguatan atas potensi yang dimiliki, dan ada pula program yang sifatnya teraputik atas aspek yang secara nyata mengalami gangguan.




  1. Monitoring kemajuan belajar
Dengan menggunakan acuan PPI yang telah disusun pada tahap sebelumnya, maka guru dapat melakukan monitoring terhadap kemajuan belajar yang dicapai siswa. Keberhasilan atau kegagalan perlu dikembalikan kepada hasil asesmen awal yang dijadikan dasar dalam penyusunan PPI. Jika terjadi kegagalan, salah satu faktor penyebabnya adalah kesalahan dalam proses asesmen.




  1. Evaluasi program
Dengan asesmen, program intervensi disusun. Dari asesmen program dilaksanakan, dan dari asesmen kemajuan belajar dapat dipantau. Selanjutnya dari asesmen pula, program dapat di evaluasi. Dengan demikian asesmen diperlukan untuk keperluan mengevaluasi program.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar